Showing posts with label Kesenian Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Kesenian Indonesia. Show all posts

Friday, April 18, 2008

Wayang Kulit Kebudayaan Asli Indonesia.




Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai
berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan
orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dynamisme. Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul
wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan
Mamenang / Kediri.
Sektar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun
lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar.
Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia,
bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk
pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

Sumber : www.jawatengah.go.id

Wayang Kulit (Purwa)

Biasa dibuat dari kulit kerbau atau kulit lembu, wayang kulit yang juga sering dikenal sebagai wayang purwa telah
menjadi salah satu warisan budaya nasional dan sudah sangat terkenal di dunia. Sehingga banyak wisatawan asing
yang datang untuk mempelajari seni wayang kulit ini, karena tergolong unik. Merupakan jenis wayang yang paling
dikenal, hingga saat ini pertunjukan wayang kulit pun masih menjadi salah satu tontonan menarik yang digemari oleh
masyarakat Yogyakarta.

Kesenian ini menggunakan sebuah layar besar dan lakonan wayang tersebut dimainkan dibalik layar putih tersebut,
sehingga para peniknat tontonan ini serasa menonton film kartun ataupun film-film di bioskop. Penggunaan layar in
berasal dari masuknya pengaruh Islam ke dalam kebudayaan Indonesia, terutama Jawa. Wayang yang pada awalnya
berbentuk boneka yang terbuat dari kayu dan dinamakan wayang golek, dilarang dipertunjukkan karena hukum Islam
melarang penggambaran bentuk dewa-dewi dalam bentuk manusia (boneka). Ketika Raden Patah dari Demak ingin
menonton pertunjukan wayang, para pemimpin Islam ini pun melarangnya. Sebagai jalan keluar, para pemimpin Islam ini
merubah bentuk wayang menjadi wayang kulit. Pertunjukannya pun melalui media layar, sehingga yang terlihat hanya
bayangannya, bukan bentuk aslinya.

Pertunjukan wayang kulit diatur dan dijalankan oleh seorang dalang yang menggerakkan dan mengisi suara-suara tokoh
dalam perwayangan tersebut. Yang menarik, ketika pertunjukan wayang kulit berjalan, di tengah-tengahnya biasanya
diselingi dengan “goro-goro”, semacam pertunjukan dengan pemain manusia, dan membawakan cerita-cerita lucu.
Pertunjukan kesenian wayang kulit ini di adakan semalam suntuk hingga fajar menyingsing. Bahkan tidak jarang
pertunjukan wayang kulit ini diadakan selama tujuh hari tujuh malam.

Pertunjukan wayang kulit ini biasanya mengambil cerita dari kisah Ramayana, Mahabarata, ataupun Serat Menak. Selain
pertunjukan yang membawakan kisah-kisah besar, wayang kulit juga menyajikan kisah Punakawan, yang lakonnya
terdiri dari Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng. Dalam pertunjukan yang menggunakan Punakawan ini, biasanya cerita
yang diangkat adalah seputar masalah-masalah saat ini.

Bentuk wayang kulit ini pun berbeda antar daerah. Di daerah Jawa Tengah dan Jogja, wayang kulit dibuat dengan
bentuk yang sangat terencana dan dengan tingkat keabstrakan yang tinggi. Bentuk yang tipis, anggota tubuh yang
indah, mata berbentuk buah almond, serta hidung mancung untuk menandakan kebangsawanan. Di Bali, bentuk wayang
kulit lebih nyata. Sedangkan wayang kulit di Lombok memiliki benda-benda masa kini, seperti mobil ataupun pesawat
terbang.

Pada awalnya, dalam pertunjukan wayang kulit, digunakan lampu minyak atau blancu untuk memunculkan bayanganbayang
pada layar katun yang tersedia. Walau saat ini blancu masih digunakan, tapi banyak pertunjukan wayang telah
menggantinya dengan spotlight. Walaupun begitu, peminat wayang kulit ini masih tetap banyak.(yds)

Source : www.trulyjogja.com/index.php?action=news.detail&cat_id=7&news_id=196
Wisata Parlemen Jawa Timur

Sejarah Reog Ponorogo.





Salah satu ciri khas seni budaya Kabupaten Ponorogo Jawa Timur adalah kesenian Reog Ponorogo. Reog, sering diidentikkan dengan dunia hitam, preman atau jagoan serta tak lepas pula dari dunia mistis dan kekuatan supranatural. Reog mempertontonkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat sekitar 50 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung. Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfir mistis, unik, eksotis serta membangkitkan semangat.

Legenda Cerita Reog.

Menurut legenda Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri. Selain itu agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna. Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reog untuk mengembangkan kekuasaannya.

Reog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan massa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu. Ki Ageng Mirah kemudian membuat cerita legendaris mengenai Kerajaan Bantaranangin yang oleh sebagian besar masyarakat Ponorogo dipercaya sebagai sejarah. Adipati Batorokatong yang beragama Islam juga memanfaatkan barongan ini untuk menyebarkan agama Islam. Nama Singa Barongan kemudian diubah menjadi Reog, yang berasal dari kata Riyoqun, yang berarti khusnul khatimah yang bermakna walaupun sepanjang hidupnya bergelimang dosa, namun bila akhirnya sadar dan bertaqwa kepada Allah, maka surga jaminannya. Selanjutnya kesenian reog terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kisah reog terus menyadur cerita ciptaan Ki Ageng Mirah yang diteruskan mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

Reog mengacu pada beberapa babad, Salah satunya adalah babad Kelana Sewandana. Babad Klana Sewandana yang konon merupakan pakem asli seni pertunjukan reog. Mirip kisah Bandung Bondowoso dalam legenda Lara Jongrang, Babad Klono Sewondono juga berkisah tentang cinta seorang raja, Sewondono dari Kerajaan Jenggala, yang hampir ditolak oleh Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Sang putri meminta Sewondono untuk memboyong seluruh isi hutan ke istana sebagai mas kawin. Demi memenuhi permintaan sang putri, Sewandono harus mengalahkan penunggu hutan, Singa Barong (dadak merak). Namun hal tersebut tentu saja tidak mudah. Para warok, prajurit, dan patih dari Jenggala pun menjadi korban. Bersenjatakan cemeti pusaka Samandiman, Sewondono turun sendiri ke gelanggang dan mengalahkan Singobarong. Pertunjukan reog digambarkan dengan tarian para prajurit yang tak cuma didominasi para pria tetapi juga wanita, gerak bringasan para warok, serta gagah dan gebyar kostum Sewandana, sang raja pencari cinta.

Versi lain dalam Reog Ponorogo mengambil kisah Panji. Ceritanya berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya, ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Pujangganong. Ketika pilihan sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah kesenian baru. Dari situ terciptalah Reog Ponorogo. Huruf-huruf reyog mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: Rasa kidung/ Ingwang sukma adiluhung/ Yang Widhi/ Olah kridaning Gusti/ Gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa. Unsur mistis merupakan kekuatan spiritual yang memberikan nafas pada kesenian Reog Ponorogo.

reog adalah kesenian asli indonesia untuk negara lain yang mengambil hak cipta reog itu salah besar karena reog warisan nenek moyang indonesia.jadi untuk negara yang mengambil hak cipta kesenian dari negara lain adalah negara yang gak berbudaya...